Tuesday, November 19, 2024

Astry Said Monday Review (ASMR) - Taeyong: TY Track in Cinemas

Setelah sukses menggelar solo konser perdananya di 26 Februari 2024 lalu, kini TyongF (nama solo fans Taeyong) bisa bertemu kembali sambil melepas rasa rindu dengan Taeyong. Taeyong kembali hadir sebagai TY Track (nama panggung yang diberikan oleh Yoo Yong jin saat Taeyong debut) dalam  'Taeyong: TY Track in Cinemas' (selanjutnya akan disebut TTTIC). TTTIC tayang di berbagai bioskop: Cinepolis, CGV, dan 21 Cineplex dengan berbagai format: 2D, 4DX, dan ScreenX. Mulai tanggal 1620 Oktober 2024



Seperti yang sudah pernah dibahas pada ASMR Februari lalu, Taeyong ingin konser perdananya bernarasi. Hal yang sama juga tetap dia pertahankan dalam bentuk film. Film diawali dengan narasi Taeyong mengenai dirinya, lingkungan, dan keluarganya. Jika umumnya sebuah narasi akan diawali oleh perkenalan tokoh, Taeyong dalam TTTIC mengawali narasinya dengan lingkungan rumahnya. Masih teringat jelas dalam benak saya, kala Taeyong berkata, "Rumahku berada di ujung gang. Gang yang sering kali dilewati para pemabuk dan mereka sering muntah di sana. Anehnya aku terbiasa dan menyukai suaranya. Mungkin aku memang aneh. " Katanya sambil tertawa. 


Bagi orang lain, mungkin kalimat ini tidak berarti, tapi untuk sebuah narasi, percayalah, ini merupakan hal yang unik. Dalam bercerita, pencerita umumnya akan mengawali narasi dengan penggambaran karakter yang sempurna tanpa cacat, lingkungan yang sempurna, dan bisa jadi dengan prestasinya. Jujur, sebagai seorang penulis (abal-abal), sungguh sangat terkejut dengan pemilihan kata-kata yang dipilih Taeyong sebagai pembuka, tetapi di sisi lain, penonton dapat mengira-ngira karakter Taeyong:      tumbuh di keluarga dan lingkungan sederhana, sedikit aneh dan nyeleneh, tanpa jaim, dan begitu nyaman untuk mengungkapkannya dengan kalimat lugas kepada fansnya. Ya, Taeyong begitu nyaman dan percaya untuk membuka dirinya kepada TyongF. 


Narasi kemudian bergulir dengan perjuangannya dari seorang trainee, debut di grup NCT, dan tumbuh menjadi solois. Salah satu kalimat Taeyong yang menjadi 'pembuka keran ' air mata TyongF  di awal film adalah, "Actually when I wrote songs… when I first wrote my songs, people look down on me quite often. Thanks to my friends who supported me so that I could write better songs and grow further I think I was able to improve a lot.” Seperti pada potongan video berikut.






Melalui TTTIC, para penonton bisa mengetahui betapa panjang proses Taeyong menjadi TY Track yang telah berumur +/- 10 tahun. Jatuh bangun yang singgah terasa, tetapi kita juga bisa melihat betapa manajemen waktu Taeyong begitu tertata rapi: waktu berlatih, rekaman, menulis lagu, menata urutan lagu, membuat video untuk narasi film, dll. 


Tidak semua lagu di konser TY Track ditampilkan di TTTIC. Lagu-lagu yang terdapat dalam film set list secara berurutan (sesuai narasi Taeyong di akun X NCT) sebagai berikut:

1. Concrete

2. Virtual Insanity

3. ¥£$ (Yes) 

4. Ghost

5. Ups and Downs

6.Gwando

7. Shalala

8. Ape

9. Tap

10. Run Away

11. Move Mood Mode ( feat Wendy- Red Velvet) 

12. 404 File Not Found

13. 404 Loading

14.Moon Tour

15. Moonlight (Short Ver.) 

16. Ruby

17. Back to the Past

18. Long Flight


Susunan lagu dibuat sedemikian rupa sehingga membentuk suatu narasi yang saling berkaitan. Khusus untuk peralihan nuansa dari Ruby ke Moonlight (set list di TTTIC) terasa begitu kontradiktif. Lagu Ruby yang menceritakan tentang Ruby, anjing kesayangan yang telah menemani Taeyong selama +/-14 tahun dan berpulang di tahun 2020. Rasa rindu dan ungkapan sayang Taeyong kepadanya terasa begitu manis dan mengharukan, tapi seolah tidak ingin TyongFs menangis terlalu lama, lagu pun beralih ke 'Moonlight' dengan menampilkan Taeyong yang seksi. 


Kalimat berikutnya yang menjadi 'pembuka keran' air mata saya ketika Taeyong berkali-kali mengucapkan bahwa butuh waktu 10 tahun baginya untuk mewujudkan impiannya. Taeyong mengingatkan TyongF agar terus mewujudkan mimpinya masing-masing dan jangan menyerah karena mimpi kita akan terwujud jika kita bekerja keras.

Kalimat lainnya adalah saat Taeyong berkata, "It took me 10 years to reach my standards... everyone, you can do it too..everyone" Kalimat yang dia ucapkan sambil menyeka air mata😭. 

Sekadar mengingatkan kembali bahwa SEMUA lagu yang Taeyong tampilkan merupakan hasil karyanya dengan para sahabat produsernya, termasuk untuk lagu-lagu yang belum terdapat di 2 mini albumnya. Sebagai tambahan, seperti yang pernah saya ungkapkan sebelumnya, pilihan Taeyong untuk menampilkan 'Concrete' lagu yang belum rilis, merupakan suatu pilihan yang sangat berani kalau tidak ingin disebut sebagai berisiko, tetapi insting bermusik dan rasa percaya dirinya yang tinggi dengan semua hasil karyanya, menjadikan 'Concrete' sebagai pilihan cerdas!

Taeyong bukanlah Taeyong jika dia tidak menyiapkan sebuah (dan atau beberapa) kejutan untuk TyongF. Kejutan pertama muncul sosok Taeyong dalam video yang dia siapkan untuk para penggemarnya, " Czennie, how are you all doing? I'm sure I’ll be doing really well. I’ll eat lots of delicious food, get stronger, and come back as an even cooler man. but if there’s one thing I’m worried about, it’s that you might be too upset because I'm not around, and that really concerns me. I’ll always cheer you on in your lives. I hope that by seeing you all doing your best in your own places, I can continue to be inspired as well. You’re always on my side, and I’m always on your side".


Cr video: cgv_korea Instagram

(Trans: taeyongpictures).

Tidak hanya itu di akhir TTTIC saat credit yang banyak menampilkan foto Taeyong saat kecil termasuk ungkapan untuk sang ibunda, Taeyong menyisipkan sebuah barcode untuk di-scan. Di dalamnya ada 3 video durasi singkat sebagai bonus.

 


3 kalimat terakhir tadi, menjadi sebuah motivasi besar dan selalu membuat saya terharu, 

  •  "I’ll always cheer you on in your lives. "

Makna: Taeyong akan selalu menyemangati dan mendukung TyongFs, jadilah yang terbaik dan lakukan yang terbaik. 

  •   "I hope that by seeing you all doing your best in your own places, I can continue to be inspired as well." 
Makna: Taeyong mengingatkan kita untuk selalu melakukan yang terbaik di bidang kita masing-masing karena itu akan selalu membuatnya terinspirasi dan dia percaya kalau TyongFs sangat hebat dan akan selalu yang melakukan yang terbaik di kehidupan sehari-hari nya



  • "You’re always on my side, and I’m always on your side"

 Makna: Tyong and TyongFs akan selalu saling mendukung, selalu percaya, dan selalu ada. 

TY Track sungguh bagaikan tontonan drama apik dan menarik. Kemenarikan itu bahkan dimulai sejak prolog hingga epilog yang intens dan penuh ups and downs yang mampu menguras emosi penonton. Penonton diajak untuk tertawa, tersenyum, berdecak kagum, melihat keseksian Taeyong, melihat kejeniusan TY Track, menangis karena kata-kata manis nan penuh semangat, dukungan, afirmasi, dan banyak cinta dari Taeyong.

TY Track bukan hanya sebuah nama dan perjuangan seorang Lee Taeyong, melainkan juga sebuah track yang dapat bermakna sebuah jalan tempat melangkah bersama dan track yang bermakna proses panjang sebuah lagu dan proses panjang menghasilkan sesuatu.



Review: 

Alur narasi: 100000000/10

Alur setlist: 100000000/10

Aksi panggung: 100000000/10

Tata cahaya: 100000000/10

Tata suara: 100000000/10

Kejutan: 100000000/10

Overall: 100000000/10



Sunday, April 21, 2024

MEMBELI KENANGAN

 Pernahkah kalian berpikir untuk "membeli" sebuah kenangan?

Mungkin frasanya sedikit aneh untuk didengar karena terkesan kurang familier, tapi sebenarnya kita sadari atau tidak, kita sudah melakukannya. Contoh: pergi ke suatu tempat (tentunya membutuhkan ongkos dll.) untuk sampai ke tempat tujuan. Saat tiba di sana, kita bisa menikmati hal-hal yang kita cari, termasuk pengalaman dan kenangan atau membuat kenangan.

Beberapa hari yang lalu, aku dan keluarga mendatangi tempat makan yang sudah menjadi langganan kami sejak sekitar tahun '89. Tempatnya sederhana, tapi memberikan kenangan manis bagi kami. Namanya Sate Ayam Pak Akim (kalau gak salah ya) karena biasa beli tanpa melihat papan namanya. Letaknya tidak jauh dari Polsek Kalideres, Jakarta Barat. Menu yang disajikan ada empat macam: sate ayam, sate kambing, sop ayam, dan sop kambing. Tempat ini merupakan tempat favorit Bapak. Dulu sering kali Bapak mengajak kami makan di sini atau membungkus sate dan sop untuk makan bersama di rumah saat gajian. Karena rumah kami saat itu tidak jauh dari sana, biasanya Bapak mengajak kami pergi bersama dengan berjalan kaki.


Ingat sekali dulu saat aku mulai merasa kelelahan (karena waktu itu masih kecil), Bapak menggendongku di pundaknya. Saat itu, aku merasa sebagai orang tertinggi di dunia. Sepanjang perjalanan, kami bercerita, bercanda, bahkan Bapak tidak segan untuk iseng agar aku bisa menggapai ranting daun di pohon yang tinggi.






Sudah lama sekali tidak berkunjung ke tempat makan ini. Dulu, masih ada beberapa mamang yang wajahnya begitu akrab dengan kami. Namun, saat beberapa minggu lalu kami berkunjung, hanya 1 mamang yang kami ingat wajahnya. Sisanya sudah berganti dengan anak-anak muda. Tempatnya pun tidak terlalu luas. Ada sekitar 8 kursi panjang berhadapan. Di meja sudah tertata sendok, garpu, tisu, acar, sambal, dan kecap. Bahkan sudah ada wadah stainless besar tempat untuk sambal mereka.



Malam itu, pengunjung bahkan banyak yang tidak kebagian tempat duduk dan harus menumpang duduk di kios samping yang sedang tutup. Beginilah suasananya. Untuk harga cukup terjangkau. Malam itu, kami memesan 20 tusuk sate dan 2 porsi sop ayam dengan jumlah harga 100 ribu. Harga yang cukup bersahabat bagi kami untuk "membeli" kenangan tentang Bapak dan mengingat kembali masa kecil. 


Monday, August 17, 2020

DJAMU




 Di sudut keramaian pasar, saya melihat sebuah gerobak yang dipenuhi berbagai tanaman herbal yang beberapa belum pernah saya lihat sebelumnya. Pada spanduk sederhana yang dipasang di atas gerobak berwarna kuning tertulis, "Tersedia beras kencur, kunyit asam, pegal linu, kolesterol, asam lambung tinggi, jeruk peras, dll". Pembelinya pun (saat itu) tidak banyak, hanya beberapa: orang yang dewasa muda dan paruh baya. 

Tergelitik melihat  herbal yang beraneka ragam, saya mendekati gerobak ini. Jujur saja karena terbiasa mengonsumsi jamu yang sudah siap konsumsi, saya penasaran bagaimana pembuatannya dan benar saja sang penjual sedang sibuk meracik jamu pesanan pembeli. Mulai dari memilah herbal yang dibutuhkan, memotongnya satu persatu, menggeprek, memerasnya,  menunggu air mendidih, mengaduk, hingga akhirnya menyajikannya. Proses pembuatan setiap jamu membutuhkan waktu sekitar 10-15 menit. Karena saya memesan 3 jamu , jumlah waktu yang dibutuhkan adalah 3 x 15 menit. Lumayanlah ya. 


Satu hal yang menarik adalah tidak ada satu pun jamu kemasan yang ada di gerobak ini. Semuanya benar-benar diracik langsung. 


Untuk mengusir rasa jenuh pembeli, beliau tidak segan mengajak ngobrol sambil memberitahu khasiat setiap tanaman. 


Karena situasi dan kondisi yang masih seperti ini, akan lebih aman jika mengonsumsi jamu di rumah dan saya pun meminta beliau untuk membungkusnya. 


Beberapa jam  kemudian, baru sempat mengonsumsi. Ternyata beliau memasukkan herbal di dalamnya (kirain tanpa apapun karena sudah disaring sebelumnya). Sesuatu yang unik, dan ternyata mungkin karena ada tanaman ini rasa jamu tetap tidak berubah, tetap wangi, dan hangat. Harga Rp15. 000/porsi harga yang cukup terjangkau untuk khasiatnya dan rasa yang luar biasa. 



Wednesday, June 24, 2020

Dear, D.







Saatnya kembali bernostalgia. ..


Dear, diary... 
Biasanya itu kata-kata itu yang digunakan sebagai salam pembuka pada diary yang kita tulis, lengkap dengan tempat dan tanggal kita menulis cerita baru pada lembaran diary. 


Entry ini diilhami karena saya masih menyimpan 2 buku harian yang saya punya dan masih ada hingga saat ini. 

Apakah kalian ingat kapan pertama kali punya diary atau buku harian? 


Ini adalah  buku harian yang pertama kali saya miliki




Saya ingat menulisnya pertama kali saat SD dan sampai sekarang saya masih menyimpan buku harian yang pertama kali saya miliki ( gak usah ditanya tahun berapa. Pokoknya sudah puluhan tahun lalu haha). 
Ketika saya buka setiap lembarannya, barulah menyadari betapa peristiwa tidak penting pun ditulis di sana🙈 

Beralih ke masa SMP, ketika saya kelas 3 SMP, guru bahasa Indonesia menugaskan setiap anak untuk memiliki dan menulis buku harian sebagai tugas akhir. 



Pada saat itu saya berpikir, 
"Ah, masa iya sih tugas akhir semudah ini? cuma nulis buku harian doang? "

Ternyata benar! 

Hampir setiap kalo beliau mengajar, beliau selalu mengingatkan untuk mengisi buku harian dengan peristiwa apapun yang mau kita tulis. 
Saat itu, tugas ini merupakan hal yang sulit bagi para siswa laki-laki, termasuk beberapa teman saya. Bagi mereka (pada saat itu), membeli dan menulis buku harian adalah suatu hal yang "bukan mereka banget".
Seolah, dulu menulis buku harian hanya untuk perempuan.

Bedanya mereka tidak peduli pada desain sampul, kemasan, dan tampilan halaman buku harian, sedangkan siswa perempuan, berusaha memiliki buku harian dengan tampilan terbaik: desain menarik, ada yang memilih buku harian yang dilengkapi gembok, lembar warna-warni hingga yang beraroma wangi. 

Kalau saya sih ada beberapa kriteria dalam memilih buku harian:
1. Desain sampul yang menarik
2. Halaman warna-warni
3. Harga sesuai. 
4. Tidak dilengkapi gembok. 
Dulu, teman saya pernah beli desain seperti ini. Eh, kuncinya hilang (padahal biasanya gembok dan kunci disatukan oleh tali warna-warni) dan ada juga yang kuncinya karatan. Jadi, buku harian gak bisa dibuka lagi. 
5. Yang paling penting: diizinkan untuk beli sama orang tua hahaha



Dalam beberapa bulan, kami diminta untuk menulis buku harian. Sebelumnya, beliau telah mengatakan kriteria agar bisa mendapatkan nilai terbaik: menulis hingga lembar terakhir tanpa membaca selembar pun apa yang ditulis. 

__
Akhirnya saat penilaian itu tiba:

Sebelumnya guru saya berkata, " Ibu panggil nama kalian satu per satu. Bawa buku harian kalian. Tenang, Ibu gak akan baca karena itu adalah rahasia kalian! "

Setiap siswa (khususnya laki-laki) merasa gugup karena mau tidak mau harus memperlihatkan buku harian yang mereka miliki dan guru saya benar-benar menepati kata-katanya: buku harian hanya dibuka secara cepat tanpa membaca. Beliau hanya ingin memastikan berapa banyak halaman yang kami tulis. 


Tanpa kami sadari, beliau mengajarkan kami untuk belajar berliterasi: membiasakan bernarasi dan menulis, mengajarkan bahwa privasi dan rahasia adalah mutlak dan harus dihargai, bahwa bercerita tidak mengenal gender (laki-laki tidak perlu malu untuk menuangkan perasaan dan narasinya pada sebuah media). 


Nah, ternyata menulis buku harian pun diyakini memiliki manfaat bagi kesehatan:
1. Meredakan stres

".... Menuangkan perasaan di dalam buku harian juga baik untuk memperbaiki kondisi mental bagi orang yang memiliki gangguan mental, seperti depresi, bipolar, gangguan kecemasan, gangguan makan, hingga skizofrenia."

2. Membuat tidur lebih nyenyak
3.Mengenal diri sendiri
4.Menyelesaikan masalah dengan baik


Selengkapnya, bisa dilihat pada artikel:







Friday, April 24, 2020

Sepenggal Kisah di Hari Buku Sedunia



Selamat hari buku sedunia!

Memperingati hari istimewa ini, entri ini akan saya awali dengan sebuah kutipan dari John Green. 


"Books are the ultimate Dumpees: put them down and they'll wait for you forever; pay attention to them and they always love you back. '
― John Green, An Abundance of Katherines

Pada hari ini, beberapa tahun yang lalu ada sebuah kejadian yang sampai sekarang masih teringat jelas. Kejadian ini tepat pada hari buku sedunia. 


Beberapa tahun yang  lalu (ya, betul saya ulangi beberapa kali sebagai penekanan) saya melamar sebagai penulis cerita fiksi pada sebuah penerbit. Ternyata mereka meminta saya untuk datang ke rumah pemilik penerbit untuk proses wawancara. Setelah bertanya banyak hal, akhirnya beliau bertanya tentang naskah-naskah yang penah saya tulis. Waktu itu saya membawa buku Taman Nokturnal karya saya. (Oh iya, alhamdulillah buku Taman Nokturnal sudah menjadi salah satu koleksi perpustakaan Universitas Leiden, Belanda. Jika kalian sedang berada di sana, silakan dibaca ya☺) 

Kembali ke cerita, beliau bertanya banyak hal termasuk tentang pemilihan judul dan isi buku. Saya menceritakan secara garis besar buku tersebut, terlihat jelas beliau tidak menyukainya. Saya ingat kata-kata beliau, "Ceritanya sudah ditebak. Judulnya tidak menceritakan isi cerita. "

Jujur, itu sesuai dengan keinginan saya.  Saya ingin memberikan sebuah judul yang membuat orang bertanya-tanya tentang cerita, ada unsur penasaran yang menjadi modal pembaca untuk membaca. Itu menurut saya ya. 
Kemudian beliau memberikan saya sebuah buku yang merupakan hasil terbitan mereka. Saya lupa judulnya, yang saya ingat, buku ini bergenre thriller. "Coba menurut kamu buku ini menceritakan apa? ".

Berbekal membaca judul (tanpa melihat sinopsis sampul buku), saya menceritakan diagnosis saya mengenai buku tersebut: awal, tengah hingga akhir cerita. " Nah, bagus! Judul buku itu harus seperti itu. Pembaca harus tau ceritanya seperti apa. "

Saya dalam hati, "ya kalau saya sudah bisa menebak jalan ceritanya, buat apa saya membeli dan membantu buku itu? "

Kemudian  beliau bertanya genre Taman Nokturnal dan mereka bilang bahwa sebenarnya mereka lebih banyak menerbitkan buku bergenre thriller, komedi, dan nonfiksi. Beliau bilang kalau genre fiksi, apalagi romantis, tidak menguntungkan dan hanya bisa bertahan sebentar di toko buku.

"Kamu gak punya naskah lain? "  katanya. Saya bercerita tentang naskah fiksi K-pop yang sedang saya kerjakan waktu itu. (Sebenarnya naskah ini sudah saya ikutsertakan untuk kompetisi menulis yang diselenggarakan salah satu penerbit besar, tapi tidak terpilih sebagai pemenang). 
"(Cerita) K-pop tuh gak laku dijual, gak menarik! "

Dalam hati, "Kalau gak menarik, gak mungkin dong Gramedia bikin kompetisi menulis! " 

(Dan memang terbukti kan gak lama setelah itu, fiksi populer K-pop booming banget! 

Kemudian, saya menceritakan tentang garis besar naskah K-pop yang saya tulis itu. Beliau memang banyak memberi masukan yang kemudian saya aplikasikan pada cerita. 

Setelah itu, beliau bilang, "Begini deh. Saya punya banyak banget judul buku. Saya bacain ya. Siapa tau kamu mau. "

Ini asli kesempatan yang sangat luar biasa, seperti sedang kepanasan dan ada yang menawarkan tempat berteduh. 

Beliau menawarkan saya beberapa judul buku nonfiksi yang didominasi genre bisnis, agama, dan tips. Kemampuan saya yang masih terbatas, mengharuskan saya untuk meriset setiap detail cerita fiksi, tidak terbayang riset yang harus saya lakukan untuk membuat nonfiksi. 
Beliau juga menawarkan beberapa judul thriller. Beliau membaca beberapa (kemungkinan) judul buku sambil berharap siapa tau saya mendapat inspirasi. 
Setelah mendengar beberapa judul, inspirasi langsung menuju cerita nonfiksi (dasar kemampuan masih terbatas 😅! Dan langsung merasa bodoh sekali). 
Beliau juga sempat menawarkan saya untuk menulis cerita klasik Rusia. 

Terakhir, beliau bilang, "Ya udah, sekarang kamu pikirkan baik-baik, kamu pulang, istirahat, setelah itu dalam waktu seminggu, kamu kirim 1 bab (pilihan)dari judul-judul buku tadi. 
Apakah saya mengirimkan bab buku yang diminta? 
Tidak. 
Karena belum mampu menulis genre yang diminta. 



Apakah cerita ini sudah selesai? 



B






E








L











U










M




Beberapa bulan setelah akhirnya saya merevisi naskah K-pop, ada sebuah kompetisi menulis. Durasi lomba sangat sempit waktunya karena memang ditujukan untuk naskah yang sudah siap. 


Kalau tidak salah,  dari semua naskah yang masuk, 13 akan dipilih menjadi kandidat dan hanya 3 naskah terbaik yang akan terpilih menjadi pemenang. 


Apa hadiahnya? 
3 naskah terbaik akan diterbitkan dan dibeli dengan sistem beli putus. Jadi, setelah diterbitkan, penulis tidak akan mendapat royalti penjualan buku. 



Tanpa pikir panjang, saya kirimkan naskah yang saya miliki. 


Setelah masuk 13 terbaik. 

Alhamdulillah terpilih menjadi salah satu dari 3 naskah yang diterbitkan Indomaret. 



Naskah yang terpilih itu adalah naskah yang kalah dalam kompetisi penerbit besar. 

Naskah yang terpilih itu adalah naskah yang menurut penetbit lain, tidak akan laku di pasar. 

Naskah yang terpilih itu adalah naskah yang menurut penerbit lain, bertema tidak menarik. 

Naskah yang terpilih itu, adalah naskah yang beberapa waktu lalu dibeli Indomaret. 




Dari sini pula saya percaya bahwa setiap naskah memiliki jalan dan nasibnya sendiri. 

Ada yang harus menempuh perjalanan panjang : ditolak, dikritik, dilempar, dan sebagainya. 

Ada juga yang berhasil menuju tempat yang dia inginkan dengan mulus. 




Selamat hari buku sedunia. 









Sunday, October 27, 2019

An Old Man and the Book



Suatu hari yang cukup terik karena matahari yang sedang tersenyum saat itu, beberapa penumpang mulai gelisah dan bertanya-tanya kapan angkot ini akan berangkat?

Dengan cuaca seperti itu, sang sopir tidak mau kalah semangat dengan matahari. Dia terus berteriak memanggil calon penumpang dan berharap agar sewa (sebutan lain untuk penumpang) semakin banyak.
Para penumpang yang enggan memilih transportasi lain, terus bersabar dan berharap angkot segera berangkat.

Di saat seperti ini, ada banyak hal yang dapat mereka lakukan: tidur, berkipas-kipas, main gawai, mendengarkan musik, menelepon dan banyak hal lainnya.  Di antara penumpang tersebut ada satu penumpang yang usianya sudah tidak muda lagi, sedang asyik dengan dunianya sendiri. Saat itu beliau memakai kemeja lengan pendek berwarna abu-abu dan celana jins pendek. Dia memegang kantong plastik hitam ditangan kanannya.

Dia tidak melakukan hal-hal yang biasanya dilakukan banyak orang seusianya, dengan fokus dia membaca sebuah buku yang dia pegang. Bukunya cukup tebal dan matanya masih awas karena beliau membaca tanpa menggunakan kacamata.

Rasa ingin tahu pun muncul, Buku apa yang beliau baca sehingga dia tenggelam di dalamnya?  Sebelumnya, tidak pernah rasa penasaran ini muncul saat melihat orang membaca, tapi kali ini berbeda.

Aku melihat dengan ekor mata, satu kata yang kuingat: HUKUM. Aku dapat melihat beberapa kalimat di sana, tapi aku tak dapat mengingatnya sekarang. Cukup lama beliau membaca dan menghentikan bacaan saat akan turun.

Tindakannya mungkin sederhana bagi beberapa orang, tapi berhasil mengusik pikiran saya.

Berapa banyak dari kita yang tidak memilih membaca saat sedang menunggu?

Berapa banyak dari kita yang malas dan enggan membawa buku fisik dengan alasan berat?

Berapa banyak dari kita yang malas membaca dengan alasan mengantuk?


Sunday, October 28, 2018

The Couple

I would not wish any companion but you

-Shakespeare-

Sebenarnya kisah ini sudah terdapat dalam draft sejak 28 Oktober 2018, tapi tidak ada salahnya untuk mengunggahnya saat ini. 

Suatu hari, saya bertemu dengan seorang pria paruh baya (sebenarnya sudah beberapa kali bertemu dengan bapak ini karena kami tinggal di kompleks yang sama walaupun berbeda blok).

Kali ini saya bertemu dengannya di sebuah  angkutan umum. Dengan rambut yang sudah mulai rontok, bapak ini duduk di angkutan umum dengan tak dan nyaman: postur badannya memang tinggi besar. Jadi, tentu bukan hal mudah baginya untuk menekuk kakinya, dengan kaos putih berkerah, celana jins pendek, dan sandal hitam, dia duduk dengan sabar sambil menunggu sopir yang sedang menunggu 'sewa'. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari penampilannya hari itu, kecuali.....
Pandangan para penumpang saat itu tertuju padanya.

Apa yang membedakannya?
Dia membawa sebuah tas anyaman plastik yang biasa dibawa ibu-ibu untuk meletakkan barang belanjaannya.

Saya pun bertanya dalam hati,mau ke mana Bapak ini dengan tas belanjaan seperti itu? 

Masa sih ke pasar? 


Ada beberapa pasar yang dilalui oleh rute angkutan umum ini. Baiklah, jika dia turun di salah satunya, berarti si Bapak beneran ke pasar nih! Pikirku.

Daaan ternyata benar!
Tidak lama dia turun di salah satu pasar dengan membawa tas anyaman plastik tersebut!

Di tahun 2018, ternyata memang ada ya pria yang tidak malu dan gengsi untuk menggantikan tugas istri untuk berbelanja, lengkap dengan tas anyaman pula.

Dan tidak hanya ini, beberapa waktu setelah itu, saya bertemu dengan keluarga si Bapak: istri dan anaknya (anaknya mungkin sekitar umur 19 tahun) dengan  postur tubuh yang tinggi seperti bapaknya, sedangkan ibunya, kebalikannya.

Saya melihat si Bapak membawakan tas istrinya (walaupun terlihat tidak berat), mereka berjalan bertiga sambil mengobrol.

Mungkin hal ini terkesan sederhana bagi beberapa orang, tapi tidak bagi saya.
Di saat usia si Bapak yang semakin senja, dia tetap berusaha melakukan yang terbaik bagi istri (dan keluarga). Betapa pembagian tugas dan pekerjaan rumah dapat mereka lakukan hingga sekian lama dengan baik tanpa mementingkan ego dan gengsi masing-masing. 


Sunday, October 2, 2016

Menunggu

Aku menunggu di sebuah halte transjakarta,setelah beberapa lama
*Dialog 1*
(Kumelihat seorang pria pergi menjauh)
:"Mas gak jadi naik TJ?"
:"Enggak,kelamaan sih,mbak.Saya mau pesan ojek daring aja"
*daring=dalam jaringan.Translasi dari bahasa Inggris: online)
-kesimpulan: Masih banyak pilihan menuju tempat yang diinginkan.

*dialog 2
Seorang perempuan yang kira-kira sebaya denganku mengenakan kemeja putih dan rok hitam sambil membawa tas tambahan berwarna biru berisi beberapa map cokelat pun pergi menjauh.
:"Loh,gak jadi naik TJ mbak?"
:"Kalau saya nunggu,bisa telat sampe kantor,mbak (melihat jam).Udah jam segini. Saya mau pesan taksi online aja.
-kesimpulan: Jika terlalu lama menunggu,orang akan memilih hal yang lebih pasti.

*dialog 3
Seorang pria paruh baya mengenakan kaos putih dan celana jins pergi menjauh
:"Bapak gak mau nunggu TJ?"
:"Kelamaan,neng.Saya mau naik angkot aja."
:"Naik angkot kan lama juga,Pak.Sopirnya kan biasanya ngetem.Kenapa gak naik kendaraan online?"
:"Nah,ini...kalau semua orang memikirkan hal yang sama seperti neng,gimana,nasib para sopir angkot?Gimana mereka bisa bayar setoran ke atasan mereka?Gimana nasib keluarganya yang bergantung padanya?"
:"Tapi,Pak para pengendara kendaraan online juga punya keluarga yang harus mereka hidupi."
:"Nah,mereka butuh orang-orang seperti neng dan para sopir angkot juga butuh orang-orang seperti saya."

-kesimpulan:
Siapapun kita,kita dibutuhkan orang lain

*Dialog 4
Kali ini saya pun menjauh dari halte TJ dan menuju halte bus.Di sana saya melihat seorang pria berumur sekitar 20 tahun duduk dengan tatapan kosong. Aku mengurungkan niat untuk mengajaknya berbincang dan memutuskan untuk memperhatikan.
Satu jam telah berlalu.
Dua jam.
Tiga jam.
Empat jam.
Semua bus dan angkot yang melewati jalur ini tidak diacuhkan.
Apa yang dia tunggu?
Atau siapa yang dia tunggu hingga dia bertahan selama ini?
Kuputuskan untuk menunggu sejam lagi.
Lima jam sudah kududuk bersamanya dan dia tetap menunggu.
:"Permisi,mas.Sudah lima jam saya di sini merhatiin mas,tapi mas hanya diam.Saya penasaran,apa yang mas tunggu?siapa yang mas tunggu?"
:"Saya gak tau apa yang saya tunggu." (Tanpa melihatku)
:"Kalau gak tau apa/siapa yang ditunggu,kenapa mas mau menunggu?" *bukankah ini tidak masuk akal.
:"saya melakukannya karena saya mau."
:*dia benar. Itu jawaban mutlak* "Mas tau sampai kapan mas akan menunggu?" (Akhirnya dia melihatku)
:"Apakah ada batas waktu untuk menunggu?"
:"Hmm..bukankah biasanya begitu?"
:"Berarti mereka tidak menunggu dengan ikhlas.They don't know the art of waiting."
:*the art of waiting kata itu terekam di pikiranku* Saya salut.Kesabaran mas sungguh luar biasa."
:"Bukankah Tuhan bekerja dengan cara yang misterius?
:"Tentu"
:"Itu yang selalu saya percaya: Terkadang Dia langsung menunjukkan jalan yang terbaik, terkadang kita harus berjalan sendiri terlebih dulu untuk beberapa saat dan Dia akan menunjukkannya."
:"Jadi, mas benar-benar masih ingin menunggu?"
:"Ya, saya akan menunggu sampai saya tau siapa/apa yang saya tunggu. Pada saat itu terjadi, hati saya yang akan berbicara."
:"Semoga mas segera menemukan jawabannya. Mas tau mungkin saat mas menunggu di sini, ada banyak hal luar biasa menanti mas di suatu tempat." (Aku beranjak dari tempat duduk dan tersenyum.)
:*Dia membelalakan matanya*
:"The art of waiting"

Sunday, August 21, 2016

25

*Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory diselenggarakan oleh GIORDANO dan nulisbuku.com






Tidak biasanya dia menelepon.
“Hey, baby dapatkah kita bertemu hari ini?”
"Kita kan selalu bertemu di hari Jumat.”
“Aku gak sabar. Laters baby.”
Aku tidak percaya papa yang kudengar, baby dia menyebutku seperti itu.

*          *          *

Jumat, 3 Juni 20..
Green tea late dengan ekstra krim?” Adrian, pria yang biasa membuat minuman kesukaanku ini tersenyum saat duduk di hadapanku.
“Kopi hitam tanpa diaduk.”
Dia menaikkan alis kirinya seolah tidak percaya.
Sambil menunggu, aku duduk di tempat kesukaanku di sudut café. Entah sudah berapa lama aku menjadi pelanggan tetap di ini, aku rasa saat “dia” pertama kali membawaku ke sini. Ya, ini adalah café favoritnya.
Aku datang lebih awal hari ini sehingga aku bisa menyiapkan materi kalimat aktif dan pasif yang kubuat dalam bentuk tabel dengan dua bahasa: Indonesia dan Inggris. 5 menit kemudian Adrian datang dengan membawa pesananku. Dia selalu memperlakukanku istimewa dengan mengantarkan pesanan ke tempat favoritku.
“Mbak, baik-baik aja? Gak biasanya mbak memesan kopi hitam tanpa diaduk. Ini kan minuman yang bisanya dipesan sama…”
Aku hanya tersenyum dan menyelesaikan tabel perbandingan kalimat sebelum siswaku datang.
“Ini gratis.” Adrian mengantarkan pesananku dengan senyum manisnya.
“Kenapa saya selalu mendapat minuman gratis?”
“Setiap hari, kami memberikan minuman gratis kepada pelanggan yang datang sesuai dengan nomor urut yang telah ditentukan. Nomornya selalu berganti dan kebetulan mbak cantik yang selalu beruntung.” Adrian yang selalu mengikat rapi rambut hitam panjangnya. Dia adalah pekerja paruh waktu di sini, profesi utamanya adalah sebagai model dan mahasiswa. Entah bagaimana cara dia membagi waktu, tapi dengan bibir merah, postur tubuh yang ideal, dan mata cokelat yang dimiliki, setiap pelanggan selalu mengidolakannya.
            Mbak Cantik dan baik hati se-Jakarta Barat dan sekitarnya J
Cangkir kopi aku berhiaskan tulisan indah khas Adrian. Tidak seperti pramusaji lainnya, dia menulis nama panggilanku dengan tulisan indahnya. Aku sering memberikan julukan “tulisan dewa” untuknya. Dia langsung bergegas ke meja kerjanya yang saat kulihat antreannya sudah semakin mengular.
Hari ini tanggal 25 September, hari ulang tahunmu.
Selamat ulang tahun. Semoga kamu selalu sehat.
Bagaimana harimu?
Aku masih membawa buku yang kamu tulis.
Dia selalu menemaniku
Tepat di jam seperti biasa JP, siswaku datang.
“Aku terlambat?”
“Tidak. Aku datang lebih awal.”
I thought I was late.” Katanya dengan aksen Prancis yang begitu kental. Untunglah dia masih bisa berbahasa Inggris dengan baik dan sekarang kosa kata bahasa Indonesia yang dikuasai semakin bertambah. “ini pesananmu?” Dia menunjuk kopi pesananku. “But you hate coffe.
Aku menganggukkan kepala. Hanya dalam waktu 2 bulan, dia sudah memahami diriku.
You want something that you hate? Are you okay?”
Aku hanya ingin memahami pikiran”nya”. Kopi lebih memahami”nya” daripada aku.
*          *          *
“Kamu udah sarapan?”
“Ini sarapanku.” Secangkir kopi hitam tanpa diaduk dan sebungkus rokok ada di atas meja dan dia mulai mengambil sebatang. Aku tahu aku benci perokok, tapi entah mengapa aku selalu tergila-gila saat melihatnya mengembuskan asap rokok yang keluar dari bibir tipisnya. Saat itu aku merasa iri dengan rokok itu. Dia beruntung karena bisa merasakan kelembutan bibir pria yang kucintai. Melihatnya sarapan adalah salah satu pemandangan kesukaanku.
Aku berusaha menahan napas saat asap itu menghampiriku. “Aku bisa matikan rokok ini kalau kamu keberatan.”
“Gak perlu.” Aku tahu aku tidak bisa melarangnya melakukan sesuatu yang dia sukai.
“Kamu suka kopi?”
“Aku gak bisa minum kopi. Dokter melarangku” Dia memainkan rokok dengan ibu jari dan telunjuknya yang panjang “apakah ini cukup? kamu yakin bisa bertahan sampai makan siang?”
Dia mengangguk dan menyesapkan kopi dan mengucapkan “ah” disetiap akhir sesapannya.
“Kamu belum pernah menjawab pertanyaanku, apakah aku penting untukmu?”
“Kalau kamu mau tahu jawabannya, kamu harus minum ini.” Dia menyodorkannya padaku.
“Tapi aku tidak bisa meminumnya.”
“Kalau tidak meminumnya, kamu tidak akan tahu bagaimana perasaanku untukmu.”
Aku takut jika perasaanmu tidak seperti yang kuharapkan. Aku takut jika ketakutanku menjadi kenyataan.

*          *          *
Baby? Apa yang kamu pikirkan?” JP menggenggam tanganku dan membuatku tersadar beberapa saat yang lalu, aku masih memikirkan “dia”. Kuperlihatkan ringkasan materi yang akan dipelajari hari ini. “Ajari aku puisi.”
Ah, ini dia kelemahanku! Aku tidak menguasai puisi kalau aku mengakuinya,apakah aku akan kehilangan pekerjaan ini? Semoga tidak! Aku butuh buang.
“Aku tahu beberapa puisi.” Setidaknya aku masih hapal puisi Aku karya Chairil Anwar sejak kelas 5 SD dan Sepasang Sepatu Tua karya Sapardi Djoko Damono, dua puisi yang tidak pernah bosan kubaca.
            “Ini buku barumu?” JP melirik pada buku yang ada di sampingku. “Pathethic Eden. Kenapa buku ini selalu kamu bawa?” Aku rasa ini bukan saat yang tepat untuk bercerita “apakah dia yang membuatmu seperti ini? Apakah dia yang membuatmu memesan kopi hitam tanpa pernah meminumnya?”
            “Hei, kenapa kamu tahu banyak hal tentangku?”
            “Kamu tidak menjawab pertanyaanku.”
            “Aku mau ke kamar mandi.”
            “Kamu baik-baik saja?” Tanyanya setelah aku duduk kembali di tempat favoritku.
            “Kita sudah selesai untuk les hari ini. Aku mau pulang.” Aku bersiap dan memasukkan Pathethic Eden ke dalam kain flannel yang kujahit sendiri.
            “Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.  Aku tidak bisa membiarkanmu pulang setelah kata-kataku tadi.Please.”
            “Stop it! Stop with the I’m-begging-you-please-look.”
            “Apakah berhasil?”
            Aku langsung berdiri keluar Coffee Café dan melihat ke arahnya. Dari kejauhan dia mengacungkan kertas yang telah kutulis. Aku menggelengkan kepala dan dia meninggalkannya di atas meja.Dengan langkah kaki yang panjang, bukan hal yang sulit untuknya untuk mengejarku. “Kita mau ke mana?”
Dia tidak menjawab dan hanya berjalan di depanku.
Jika kamu tidak meminumnya, kamu tidak akan tahu bagaimana perasaanku untukmu.
Aku berada di dalam duniaku sendiri dan tidak menyadari tali sepatuku lepas dan aku jatuh tersandung. Telapak tangan kanan kugunakan untuk menahan beban agar aku bisa menghindari anak kecil yang ada di hadapanku. Aku melihat JP panik dan berlari menghampiriku. “Kamu gak apa-apa? Tanganmu berdarah. “ Dia memapahku dengan tangannya yang besar “kamu masih bisa jalan atau aku harus menggendongmu?”
“Tidak perlu, terima kasih.”
“Tapi kalau kamu terjatuh lagi, aku akan menggendongmu tanpa harus meminta izin.” Dia tersentum memamerkan barisan gigi putihnya yang rapi. Aku suka mata birunya saat mereka melihatku, aku selalu merasa cantik.
            Kami tiba di sebuah restoran mewah yang menghidangkan berbagai menu Prancis. Dua menit setelah kami duduk, pramusaji menyajikan sirloin steak yang dimasak medium, saus bérnaise, kentang goreng, sayuran hijau, dan Barossa Valley Shiraz.
            “I…ini seperti…”
            “Menu yang dipesan Christian Grey untuk Annastasia Steele dalam trilogi Fifty Shades of Grey kesukaanmu.” Aku tidak percaya pada apa yang kuliat, bagaimana dia bisa tahu begitu banyak tentangku.
            “Tetralogi. Kamu tahu kan kalau E. L. James sudah mengeluarkan Fifty Shades of Grey dalam sudut pandang Christian Grey?”
            “Dan masih ada dua buku lagi yang akan terbit kan.”
            Aku mengangguk. Senang sekali rasanya saat ada seseorang yang sangat mengerti dirimu, tahu apa yang kamu rasakan tanpa harus menceritakannya.
            “Aku cinta kamu. Izinkanlah aku untuk membuatmu bahagia.” Dia mengecup tanganku.
            “Tapi dengan satu syarat. Temani aku mempelajari kopi, temani aku berkeliling dunia untuk memahami kopi. Temani aku untuk memahaminya supaya aku bisa berdamai dengan masa laluku.”
            “Aku setuju. Kapan kita berangkat?”

*          *          *
“Adrian, apa yang kamu pegang?” Tanya sang manajer saat melihat Adrian memegang secarik kertas yang berisi tulisan tangan sesorang.
“Ini punya mbak cantik. Dia selalu meninggalkan catatan setiap kali datang.”
“Siapa mbak cantik?”
“Orang yang selalu datang ke sini, Pak. Selalu datang dengan memesan minuman yang sama, tapi setiap tanggal 25 dia selalu memesan kopi hitam tanpa diaduk.”
“Kenapa?” Sang manajer semakin penasaran.
“Dulu setiap tanggal 25 dan 25 September, dia selalu ke sini dengan pacarnya, tapi udah 2 tahun terakhir dia selalu datang sendiri dan saya selalu menemaninya ngobrol.”
“Dia sudah datang hari ini?”
“Itu, di meja nomor 25. Itu tempat kesukaannya, dia tidak pernah mau ada di meja lain.”
Sang manajer melihat ke arah meja nomor 25 dan tersenyum. Tatapan matanya begitu tajam dan tidak mau memalingkkannya ke arah lain.
“Mulai sekarang, berikan semua pesanan yang dia mau. Gratis. Pastikan dia meja 25 selalu kosong saat dia datang. Jangan biarkan dia datang ke kasir dan menunggu lama. Layani dia di mejanya dan antarkan pesanannya langsung.”
“Gratis? Bagaimana kalau dia curiga?”
“Kamu bisa bilang kita memberikan minuman gratis kepada pelanggan yang datang sesuai dengan nomor urut yang telah ditentukan. Nomornya selalu berganti dan kebetulan dia yang selalu beruntung. Serahkan semua catatan yang dia tulis untuk saya. Kamu mengerti Adrian?”
“Ya, Pak JP saya mengerti.”
           

 -TAMAT-



           



Wednesday, December 23, 2015

TATER POTS

Bosan dengan camilan yang sama akhirnya iseng coba resep ini *lupa dapat info dari mana*😁

Selamat mencoba tater pots

bahan:
500 gr kentang (kalau kebanyakan kurangin aja.aku 300 gr dan jadinya udh banyak), 2 sdm  tepung terigu ,
1 butir telur dikocok lepas,
keju parut secukupnya (agak banyak aja biar gurih),
1/2 sdt garam,
1/2 sdt merica bubuk,
1/2 sdt bawang putih bubuk
dan tepung roti secukupnya

cara: 1. kupas kentang,potong kotak2 halus trus dikukus sampai matang,angkat dan tiriskan.hilangkan uap panas.

2. letakkan kentang kukus di mangkok besar,tekan-tekan dgn garpu sampai setengah hancur.

3. masukkan tepung terigu,keju parut,telur,merica,garam&bawang putih aduk sampai rata.

4. ambil 1sdt adonan bentuk bola,gulingkan dalam tepung roti sambil ditekan sedikit trus tinggal digoreng deh,😁

Tuesday, December 22, 2015

OREO CHEESE CAKE

Lagi iseng buka fb ternyata nemu resep  Oreo Cheese Cake dari Nana Sularno😁

Bahan:
3 bungkus oreo (hanya pakai biskuitnya)

1 sachet dancow putih
Gula pasir 2sdm
Margarin 1sdm
Keju parut 150gr
Air putih 1gelas belimbing
Ceres sesuai selera

Cara:
1. Hancurkan biskuit oreo tanpa isi (jangan terlalu hancur)

2.panaskan margarin
3. Campurkan oreo dan margarin kemudian di letakkan di wadah yg akan digunakan
4.tambahkan 50gr Keju parut di atas campuran oreo dan margarin tadi

4. Masak susu bubuk,air,keju parut 100gr (sesuai selera),dan 2sdm gula pasir hingga mendidih dan mengental

5. Tuangkan campuran tadi ke wadah yg telah diisi oreo,margarin, dan keju parut

6. Taburkan ceres sesuai selera
7.simpan di freezer

Wednesday, December 2, 2015

Dear,me

I write this entry just for you.
yes,you!
whenever you feel like you lost yourself,READ it!
again....again...again...and again

you should remember:
1. you ARE strong!
more than you think

2. when the going gets tough,be TOUGHER!

3. you ARE perfect!
perfect imperfection.

4. love your flaw!

5.count your bless!

6.keep writing!

7.keep designing!

8.you WILL and DESERVE to be happy!

9.Somewhere, there's some peope.who takes you as their role model, so please be STRONG!

10. save your money for your next.biggest dream

11. one day you'll be grateful he let you go.

12. I know you've been trying so hard as hard as you can for almost 8 years, but you have to let him go!

13. just cry...as much as you need but please don't lost your faith!

14. surround yourself with people who loves you for who you are with all your flaws.

15. you have at least one person who loves and miss you!

16. great things takes time!

17.  some man don't deserve your love,affection, attention, and time!

18. great man will always love you with you flaws!

19. God knows what He's doing

Sunday, November 1, 2015

We Met for a Reason: Breaking My Heart

As wise man said: everything happen for a reason.

We met for a reason (too): Breaking my heart.

I only have one heart and I gave it to you.Don't break it.

I'm not as perfect as other girl who have a crush on you. I'm not!



I'm just...








me..





Dear God,I've been trying for more than 7 years.Please give me my happiness

please God








please...



I'm tired..


I wish I could speak your language,so I don't have to take a wild guess what do You want me to do.


I've done my best as human 


and as women.

Please God..




Give me my happiness,that's all I ask.

Sunday, October 25, 2015

#M

Pagi ini kuterbangun dengan melihat berbagai kertas indah di.hadapanku. Tersusun begitu indah karena embusan angin membuatnya seolah melayang-layang.

Aki mengenaln tulisan itu. Itu tulisanmu.

Aku membaca kertas itu satu persatu. Kertas pertama yang berukuran sedang .Deretan puisi dengan kata-kata indah ada di sana. Puisi,kau selalu bilang kau tak pandai menulisnya.
Kau bohong! Lihatlah puisi ini..begitu indah.Sangaatt indah.
Perlahan,air mata ini menetes.

Kertas kedua berukuran lebih besar.Bertuliskan "hal yang tidak kusukai tentangmu"
..bukan 10,bukan 20, tapi ada 100 alasan yang kau tulis.
begitu banyak hal yang kau sukai tentang diriku.

Kertas terbesar terletak tepat di tengah-tengah kamarku. "AKU MENCINTAIMU" begitu terpampang jelas. Aku mulai bisa menghentikan tangisku.

Masih ada satu kertas lagi yang harus dibaca: kertas terkecil.
"Hal yang kusuka tentangmu".
Hanya ada 5 poin di sana.

Aku tidak tau harus bagaimana?
Apakah aku harus menangis? Tersenyum? Bahagia?sedih?

Mengapa kau selalu menulis kalimat -kalimat bersayap?
Mengapa kau selalu sulit "kubaca"?

Tiga Kata

Tiga kata itu yang selalu kukatakan.
Tiga kata itu yang ingin kuucapkan.
Aku akan terus mengucapkannya  setiap hari setiap saat.
Jika bibirku tak mampu lagi berucap,biarlah jemariku yang berbicara
Jika jemariku tak lagi dapat bergerak,biarlah mataku yang berbicara.
Jika mataku tak dapat melihat...
Aku pasti akan selalu menemukan cara untuk mengucapkan tiga kata itu.

Aku tidak akan berhenti mengucapkannya bahkan saat aku pergi selamanya,aku pasti akan selalu menemukan cara untuk mengucapkan tiga kata itu.

Aku


tidak



akan



berhenti



tidak!

Monday, September 7, 2015

Luka Itu Perih(?)

Luka Itu Perih (?) http://astry-rizky.blogspot.com/2015/09/luka-itu-perih.html

Luka Itu Perih (?)

Pasti kita pernah merasa sedih,kecewa,terluka atau perasaan apapun itu yang pernah membuat kit berpikir untuk menyerah dan berhenti berusaha.

Kita bebas untuk memilih berhenti atau terus  melanjutkan perjuangan.Kedua pilihan tadi memiliki risikonya sendiri.

Jika kita berhenti, kita akan merasa aman tapi kita tidak tahu apa yang telah menunggu kita jika terus melangkah.

Saya belajar banyak hal dari keponakan saya yang berumur hampir 3tahun.

Suatu hari dengan penuh semangat dia berlari di jalanan kompleks. Tiba -tiba dia terjatuh!

Lututnya terluka dan berdarah!
Lalu apa yang dia lakukan? Apakah dia menangis? Apakah dia berhenti? TIDAK!

Dia bahkan tidak menangis! Seolah tidak ada luka di kakinya dan seolah tidak terjadi apa-apa dia terus berlari dan melanjutkan perjalanannya.

Dia mungkin terluka dan berdarah tapi dengan keberaniannya dia tidak takut untuk terjatuh lagi dan berusaha lagi , lagi, lagi,lagi, dan lagi.

Bukankah kita dapat berjalan seperti sekarang, karena saat kecil kita pernah berkali-kali jatuh?

Bukankah jika kita terluka akan ada orang-orang dan obat yang akan menyembuhkannya?

Jadi, untuk apa kita harus takut terjatuh dan terluka?

Keponakan saya sudah membuktikan bahwa tidak semua luka memberikan rasa perih.

Because every scar has it's own story

Monday, July 6, 2015

Less Complaining, Be Happier




Pernahkah dengar atau membaca curhatan teman yang selalu mengeluh?
PASTI PERNAH!

Jengkel gak sih kalau teman kita itu selalu mengeluh ke kita?
Ada saatnya sih jengkel, tapi namanya juga teman, pasti akan kita maklumin.

Apa yang ada dalam pikiran kita kalau ada orang yang selalu mengeluh?
Pathethic? loser? atau tidak pandai bersyukur ?

Tapi pernahkah kita mengeluh pada orang lain?
PASTI PERNAH! Setidaknya sekali dalam seumur hidup.

Kalau begitu apa bedanya 'curhatan' dan 'keluhan' ? HAMPIR SAMA.
Yang berbeda mungkin nilai rasa dan kandungan rasa yang ada di dalamnya.
Curhatan: Bisa jadi sesuatu (berita, hal, kabar, cerita, dll) yang bersifat positif dan ingin membagikan kabar bahagia itu pada orang terdekat.

Keluhan: Biasanya sesuatu yang sifatnya negatif  yang ingin dia ceritakan pada orang terdekat. Contoh: Selalu merasa ada yang kurang dalam hidupnya.

Apakah orang yang selalu mengeluh bisa bahagia? BISA! Kalau mereka mau.

Kalau kalian termasuk orang yang masih suka mengeluh hingga saat ini, coba deh liat sebuah iklan di televisi dalam rangka menyambut bulan ramadhan dan Idul Fitri.
Iklan sederhana yang melihat apa arti kebahagiaan (Lebaran) dalam hidup mereka.

Ada yang menganggap kebahagiaan (Lebaran) adalah saat memiliki sebuah sajadah baru untuk beribadah; Ada pula yang mengganggap kebahagiaan saat bisa memiliki mukena baru; Seorang gadis cilik menganggap kebahagiaan adalah saat bisa makan ketupat di hari raya; seorang bapak bahagia saat bisa memberi makan untuk anak dan istrinya.

SESEDERHANA ITU!
Setiap orang memang memiliki patokan yang berbeda terhadap sebuah kebahagiaan, setiap orang pun memiliki cara yang berbeda untuk bahagia, tapi mereka memiliki keputusan yang sama: UNTUK BAHAGIA!

Ingatlah bahwa sekekurangan apapun dirimu, akan selalu ada orang yang tidak lebih beruntung daripada kita. Akan selalu ada orang yang lebih kekurangan dan mereka TETAP BISA TERSENYUM!

Stop complaining, be happier!
Love yourself, live your life, love your life!